Kewajiban paling mendasar seorang kepala keluarga adalah mencari nafkah untuk keluarganya, menyiapkan dan pendidikan anak-anaknya, memenuhi sandang pangan papan. Kewajiban lainnya sebagai muslim adalah beribadah kepada Sang Pencipta, shalat lima waktu, menunaikan zakat, berhaji bagi yang mampu, menyantuni anak yatim dan aktifitas keagamaan lain yang sejalan dengan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi.
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak kepala keluarga yang terkendala antara keinginan untuk memenuhi kewajibannya dengan penghasilan yang diperoleh dari gaji atau hasil usahanya. Yang penghasilannya kecil, susah membaginya. Ironisnya, yang berpenghasilan besar pun, belum tentu bisa menyisihkan/menabung.
Lantas, bagaimana menyiasatinya? Jika kita menabung di Bank hanya untuk menitipkan secara sementara uang kita, karena esok harinya digesek melalui ATM- maka sebaiknya sisihkan 10 – 20 persen penghasilan kita melalui asuransi syari’ah yang berbasis unit link. Mengapa? Karena jika tujuan menabung di bank hanya”menitip sementara” uang kita, maka membayar premi adalah “menabung serius secara jangka panjang”. Perlakukan asuransi sebagai layaknya salah satu dari kebutuhan pokok lainnya. Sebab, biaya rumah sakit makin mahal, kenaikan biaya sekolah atau kuliah juga semakin tinggi setiap tahunnya. Adakah garansi kita akan sehat terus? Adakah garansi kita tidak meninggal? Tidak ada. Setiap kita mungkin akan sakit atau bahkan meninggal.
Tapi jika kita berinvestasi di asuransi syariah, maka garansi penggantian biaya rumah sakit, akan terpenuhi sesuai kontrak yang tercantum dalam polis. Begitu juga jika peserta meninggal dunia, ahli warisnya akan memperoleh sejumlah pertanggungan. Jadi asuransi syariah seharusnya menjadi skala prioritas, bahkan untuk kita yang berpenghasilan pas-pasan. Sebelum 80 sampai 90 persen penghasilan kita hilang karena mungkin terkena penyakit kritis, cacat tetap total atau bahkan tidak berumur panjang. Sebelum semuanya terlambat!




